Menjadikan Indonesia yang
cemerlang adalah salah satu cita-cita Bangsa Indonesia untuk generasi saat ini.
Cemerlang saja tak cukup, jika tidak dilandasi dengan rasa ketakwaan kepada
Allah SWT. Salah satu cara menjadikan Indonesia menjadi Negara dengan penduduk yang cemerlang adalah dengan
membangun generasi Quran. Generasi Quran atau yang kerap disebut dengan
generasi Qurani telah menjadi hal yang umum, namun apa jadinya jika generasi
Qurani itu berasal dari saudara-saudara kita yang membutuhkan? Senang bukan
rasanya?
Sebelumnya
perkenalkan nama saya Marsha Dwizashista Sakinah, lahir di Jakarta, 10
September 1997 yang kini sedang mengenyam pendidikan sebagai Mahasiswi aktif
Desain Grafis di Politeknik Negeri Jakarta. Tinggal dan hidup bersama nenek
sejak SMP di kota Jakarta membuat saya berfikir dan bekerja keras untuk menjadi
orang yang bermanfaat bagi orang lain, walaupun saya anak terakhir dari dua
bersaudara tidak mengurungkan niat saya untuk membawa suatu perubahan demi
kebahagian orang-orang disekitar saya. Aktivitas dan rutinitas saya selain
menjalankan pembelajaran di kampus adalah melaksanakan amanah saya sebagai
Anggota Komisi 2 MPM PNJ (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Politeknik Negeri
Jakarta) dan komunitas di luar sana untuk wadah pembekalan saya. Setiap hari
liburnya, saya selalu mengagendakan dan menyempatkan waktu untuk keluarga dan mengupgrade
diri dengan liqo serta mengikuti seminar motivasi atau hal lainnya.
Tak cukup sampai disitu, saya sadar bahwa kini sudah saatnya
mempunyai cita-cita yang tak hanya untuk waktu beberapa tahun yang akan datang,
namun 10 bahkan 20 tahun ke depan, karena kami adalah generasi penerus di Abad-21,
dimana saya yakin bahwa abad 21 sebagai zaman kecemerlangan Indonesia, termasuk
muslim Indonesia. Untuk itu saya pun memiliki cita-cita dan tekad untuk bumi
pertiwi, Indonesia.
Tentunya rasa cinta saya kepada Indonesia dan
kontribusi yang akan saya berikan kepada Indonesia semua berlandaskan QS.
Muhammad ayat 7. Kontribusi yang akan saya berikan untuk Indonesia berawal dari
mirisnya melihat saudara sesama muslim dalam keadaan kurang mampu, sedangkan
banyak pula diantara saudara muslim lainnya yang sedang bersenang-senang ria.
Menurut info dari www.voa-islam.com
Indonesia termasuk salah satu dari Negara Muslim termiskin di dunia. Miris dan
sungguh teriris hati ini saat membacanya. Dari situlah tekad diri ini untuk
membuat kesejahteraan muslim di Indonesia menjadi lebih sejahterah.
Negara di Asia Tenggara ini disebut sebagai tanah
dengan populasi Muslim tertinggi. Persentase Muslim Indonesia mencapai hingga
12,7 persen dari populasi dunia. Dari 205 juta penduduk Indonesia, dilaporkan
sedikitnya 88,1 persen beragama Islam. Dari data tersebut, membuktikan
bahwasannya tak sedikit saudara muslim kita yang masih membutuhkan bantuan
kita. Rasulullah pun telah mengajarkan kita untuk saling tolong melong.
Melihat
data tersebut, saya pun memiliki tekad dan mimpi untuk kesejahteraan
saudara-saudara muslim saya. Saya
mempunyai tekad untuk membuat muslim di Indonesia mendapatkan
kesejahterahannya. Bukan hanya kesejahteraan materi, namun kesejahteraan rohani
yang menjadi salah satu goalsnya. Karena saya yakin pada hakikatnya,
kesejahteraan bukan hanya dari segi materi saja, namun rohani yang tentram adalah
kesejahteraan sesungguhnya.
Untuk
mendapatkan kesejahteraannya, saya memiliki program pengembangan diri. Bukan
pengembangan diri biasa, karena yang seperti itu sudah biasa tentunya, namun
untuk program yang akan saya kembangkan adalah suatu cara untuk menanamkan rasa
cinta dan kasih mereka kepada Allah dan Rasul Nya, insyaAllah jika mereka sudah dekat Allah dan
Rasul membuat hati mereka tenang dan lebih banyak melakukan hal-hal positi
Semua harus diawali dengan
hal-hal kecil, hal ini akan saya awali dengan menjalankan suatu kegiatan yang
targetnya untuk anak-anak bahkan yang dewasa pun akan saya lakukan kegiatan. Sesuai
bidang saya yaitu Desain Grafis, salah satu contoh dari industri kreatif yang
ada Indonesia. Saya akan mengembangkan muslim-muslim Indonesia dengan
memaksimalkan di kreativitasnya, karena orang pintar dan cerdas sudah semakin
banyak, maka sudah saatnya dibutuhkan orang-orang yang kreatif dan berkompeten.
Dengan cara membangun rumah kreatif, yang di dalamnya, dikhususkan untuk muslim
Indonesia yang membutuhkan untuk semua umur, dan nantinya akan dikelompokan
sesuai umur mereka dan di dalamnya ada program-program yang harus mereka ikuti,
salah satu program konkretnya adalah dengan mengadakan al-masurat tiap pagi dan
petangnya, serta tahsin untuk memperbaiki bacaan dari tiap-tiap orang yang
masuk kedalam rumah kreatif. Tidak hanya dengan program itu saja, ada juga untuk
melatih dan menjadikan mereka generasi yang cemerlang dengan menyediakan ruang
baca, ruang berlatih serta ruang lainnya . Dengan tujuan, memberi kesempatan
untuk mereka menjadi unggul.
Ruang berlatih yang akan saya maksimalkan adalah
tentang agama dan bidang lingkungan. Mengapa bidang lingkungan? Karena
Indonesia terkenal akan banyaknya sampah yang menumpuk di satu titip di wilayah
tersebut, dan untuk menangulanginya saya akan memaksimalkan siapa saja yang
berada di rumah kreatif nantinya dapat menjaga lingkungan,, dan tidak hanya
sebatas menjaga lingkungan saja, namun dapat mendaur ulang jika sewaktu-waktu
mereka menemukan sampah.
Rumah
kreatif ini nantinya akan dipisah anatara rumah kreatif ikhwan dan rumah kreatif
akhwat, agar menanamkan nilai-nilai bahwa hijab itu perlu dan membuat mereka
terbiasa untuk senantiasa menjaga diri mereka. Rumah kreatif ini akan tersebar
di seluruh penjuru Indonesia yang akan mewadahi mereka diluar sana untuk
mendapatkan kesejahteraannya, seperti yang saya paparkan sebelumnya, kesejahteraan
yang juga berasal dari diri tiap-tiap orang di rumah kreatif.
Saya
yakin, Indonesia serta muslim Indonesia akan semakin membaik, jika tiap-tiap
dari diri mereka telah tertanamkan niat yang tulus, pibadi unggul dan generasi
Qurani. Jika masyarakat dalam negaranya saja sudah dekat dengan
Allah Yang Maha Pemberi, maka mudah bagiNya untuk memberikan kesejahteraan pada
rakyat Indonesia.



0 komentar:
Posting Komentar