Ini
tentang sebuah mimpi
Siapa yang belum pernah merasakan mimpi? Ah..
Ku pikir semua orang pernah mersakannya. Namun, mimpi disini, mimpi dalam artian
cita-cita dan impian kita. Bukan mimpi yang hanya sekedar kembang tidur saja.
Sebelum membahas ini, pernahkah kalian
mendengar, bahwasannya
“Jika
kalian memiliki mimpi, ataupun target. TULIS lah hal itu. Tulis dan tempel
di tempat yang sering kalian jumpai.”
Saya
mengetahui hal itu sejak saya ada di bangku SMA, dan sayupun mulai mencoba cara
itu.
Jujur, pernah ada rasa kecewa saat impian saya
yang saya tuliskan pada poin pertama dan kedua tidak akan terjadi lagi, dan tak
mungkin terjadi, yaitu masuk ke universitas yang saya impikan dengan tahun dan
cara masuk yang saya impikan. Sempat meragukan list 100 mimpi-mimpi saya yang
lain, sempat merasa apa yang saya lakukan hanyalah sebuah hal yang sia-sia.
Namun ada impian yang menuliskan “Umroh 2016” saat melihatnyapun, saya berfikir, “apakah ini
akan tercapai?” yang poin satu dua saja sudah tidak mungkin tercapai. Tapi
saya tetap menguatkan apa yang ada di dalam hati saya, bahwasannya saya ingin
sekali diundang untuk datang ke rumahNya dan menghabiskan suka duka saya
disana.
Waktupun terus berlalu, sampai tiba saatnya
waktu yang ada di impian saya tiba, dan…………
Ini menjadi kenyataan,
hari-hari sayapun diisi dengan penuh tangisan haru, betapa diri ini sungguh
berdosa. Sempat meragukan apa yang di berikan olehNya, untuk tujuan hidup ini.
Diri ini sempat kecewa, karena tidak dapat masuk kedalam universitas yang di
impikan. Namun jalan Allah lebih indah.
Bukan berarti saat salah satu impianmu tak
dapat kau gapai, semua mimpimu juga tak akan dapat kau gapai. Itu semua salah
besar.
Mengapa
saya dapat mengatakan seperti itu? Ya karena saya pernah mengalami diposisi
itu.
Allah Maha Mengetahui tiap-tiap hati hambaNya.
Jujur saat saya di panggil untuk menjadi tamuNya, itu dikala saya tak sanggup
lagi berkata-kata, untuk cerita ke orangpun tak mampu. Dan Alhamdulillah, saya
berkesempatan untuk menceritakan apa yang saya rasakan, langsung kepadaNya,
dirumahNya.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang
engkau dustakan?”
Disanipun, saya berbeda dengan orang
kebanyakan. Dimana semuanya bersama keluarganya, disini saya sendiri. Benar-benar
saya merasa, ini saatnya saya sama Allah. Hanya kami berdua. Melupakan sejenak
apa yang ada di dunia. Fokus pada tujuan akhir nanti.
Okee
kembali lagi ke massa dimana saya ada niatan untuk kesini…… ke rumah Allah ….
Ke tempat yang mulia.
Ingat sekali, Ramadhan 1435H kurang lebih 2
tahun lalu, saya diajak i’tikaf oleh teman, sahabat sekaligus orang-orang yang
sudah saya anggap keluarga saya sendiri, yaitu ROHIS 68. Ini kali pertama saya I’tikaf
bersama teman-teman saya, dikala itu ikhwan yang menjadi pelopor untuk mengajak
I’tikaf, kalau akhwat mah ayo aja, tapi namanya juga akhwat pasti ada
kendalanya, yaitu di perizinan/hayooo ancung siapa yang merasakan hal yang
sama/ . Hehehe. Sayapun merasakan hal yang sama. Dan kala itu di malam ke-27,
malam jumat dan pada siang harinya, ada suatu pengumuman yang mengatakan
Indonesia khususnya Jakarta akan rusuh, tapi itu tak membuat tekad kami gentar,
dan ingat betul… Perkataan saya dikala mengajak I’tikaf saudara-saudara di
rohis 68 lainnya menggunakan kata-kata “Berawal dari masjid-masjid
Jakarta, berakhir di Masjidil Haram” kalimat itu
yang selalu saya ucapkan, mungkin ada pula yang sampai bosan mendengarkan saya
selalu mengucapkan itu. Karena prinsip
kami waktu itu, sebelum menemukan masjid yang benar-benar membuat nyaman seperti
sekarang, ya kami I’tikaf ke masjid-masjid yang berbeda di tiap malamnya. Eh
saat nemuin yang pas , jadilah di tempat itu sampai sekarang.
Nah setelah bulan Ramadhan berlalu, dapat kabar
bahagia, kalau beberapa saudara di Rohis 68 telah diundang untuk ke rumahNya,
dikala itu saya sungguh senang, namun sayapun selalu bertanya, kapan diri ini
akan diundang untuk datang ke Baitullah, setiap saya berkesempatan untuk melihat
tv, saya selalu menonton siaran langsung dari Makkah, padahal hanya
memandangnya hanya dari TV, tapi lagi-lagi saya menangis. Memang saya payah
kalau udah urusan sedih-sedihan hehehe. Untuk sedikit menghibur diri, sayapun
menaruh harapan saya, doa saya , serta perasaan yang saya alami, saya tuangkan
dalam sebuah tulisan, https://marshazashista.wordpress.com/2014/12/13/panggilan/
Ingat betul, kala itu disaat teman-teman saya
kesana, karena bukan hanya seorang dua orang saja diwaktu yang bersamaan, tak
jarang mereka saling berjumpa di Baitullah, indah bukan ketika bertemu teman
seperjuanagan di rumah Allah? Itu membuat saya semakin sedih… Dan saya selalu
meminta foto aktifitas mereka disana….. Dan hal inilah yang membuat saya
menuliskan “Umroh 2016” masuk dalam list mimpi saya. Memang tidak
saya cantumkan tanggal dan bulan persisnya, karena ini semua adanya campur
tangan Allah…….
Sempat saya singgung saya berangkat sendiri
pada awal tulisan ini, sepertinya inipun salah satu karena ucapan saya. Dulu di
SMA saya, ada program untuk umroh, bersama guru, namun kala itu saya tidak diizinkan
oleh orangtua karena saya akan berangkat sendiri nantinya(tanpa wali yang
mendampingi maksudnya). Tapi ya namanya juga mau, jadi saya bilang “Gapapa
kok mah, pah, aku sendiri aja kesananya. Kan ada Allah yang jagain aku”, eh
saat mimpi jadi kenyataan, omongan pun menjadi doa, dan omongan yang saya
lontarkan menjadi kenyataan pula bahwasannya , saya pergi sendiri.
Tapi dari keseluruhan kisah saya kali ini, kini sayapun memahami,
Tapi dari keseluruhan kisah saya kali ini, kini sayapun memahami,
Bahwasannya bukan dimana kita mengenyam pendidikan, tapi seberapa serius kita dalam mengenyamnya. Entah jadi apa engkau nanti, tapi semua dilatih sejak kini. Entah apa impianmu, kuharap masih ada harapan besar untuknya, selalu mengikhlaskan dalam setiap langkah perjalanan. Jangan pernah kecewa saat impian tak menjadi kenyataan dan selalu ingat bahwasannya setiap perkataanmu adalah doa.
Yuk mulai bermimpi dan berkata baik,
karena omonganmu, adalah doa mu.


